Potensi Kelapa Sawit, Kedelai, dan Mikroalga sebagai Bahan Baku Oleokimia Indonesia

Jumat, 20 Desember 2013
a.       Potensi Minyak Kelapa Sawit Untuk Oleokimia
Bahan baku utama oleokimia pada awalnya adalah tallo dan minyak kelapa yang masing-masing merupakan sumber asam lemak C16 dan C18 serta C12 dan C14. Namun peningkatan produksi tallow dan produksi minyak kelapa sangat sedikit sehingga diperkirakan tidak dapat memenuhi kebutuhan sumber bahan baku oleokimia dimasa yang akan datang. Alternatif pengganti tallow dan minyak kelapa sebagai bahan baku oleokimia adalah CPO dan PKO, karena masing-masing mengandung asam lemak C16 dan C18 serta C12 dan C14 (Kementrian Pertanian, 2013).
Potensi Indonesia sangat mendukung dalam pengembangan produk oleokimia dasar, seperti: fatty acid, fatty alcohol, methyl ester, glyserol dan produk oleokimia turunan lainnya.
Sebagian besar industri oleokimia di Indonesia menggunakan bahan baku dari minyak kelapa sawit, yaitu sebesar 94,3 % dari total konsumsi. Industri oleokimia hanya mampu menyerap sebagian kecil produksi saja, yaitu sebesar 8,7 % dari total produksi PKO dan 1,7 % dari total produksi CPO (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2013).
Potensi CPO Indonesia sangat besar dan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan saat ini, Indonesia telah menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, melebihi Malaysia yaitu 2 juta ton per tahun (Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, 2009).
Kelebihan:
-  Tanaman sawit menghasilkan minyak lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lain. Kandungan minyak yang tinggi dapat meminimalkan biaya produksi sehingga lebih disukai produsen (Kamarudin, 2011); dan
-          Tanaman ini dapat dijumpai hampir di seluruh Indonesia.
Kelemahan dan tantangan:
-    Kandungan FFA tinggi sehingga cenderung mudah tengik dan korosif terhadap peralatan proses;
-       Pasokan CPO untuk industri dalam negeri kurang terjamin karena sebagian besar diekspor dikarenakan harga ekspor yang jauh lebih menarik, sehingga mengakibatkan utilisasi kapasitas produksi industri hilir CPO tidak optimal;
-          Produk turunan CPO nonpangan, yaitu biodiesel tidak mampu bersaing secara keekonomian dengan BBM subsidi; dan

-         Terjadi persaingan pemanfaatan dengan sektor pangan.

Sifat Fisik Minyak Kelapa Sawit
(Barley's Industrial oil and Fat Production, 2005)
b.       Potensi Minyak Kedelai untuk Oleokimis
Penggunaan minyak kedelai langsung dari kacang kedelai sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia dirasa cukup memberatkan sektor pangan di Indonesia. Mengingat beberapa bulan lalu terjadinya kelangkaan kedelai di masyarakat sehingga meningkatkan harga kedelai yang cukup tinggi.
Konsumsi kedelai Indonesia pada Tahun 1995 telah mencapai 2.287.317 Ton (Sri Utami, 1997). Sarwono (1989) menyatakan bahwa lebih dari separuh konsumsi kedelai Indonesia dipergunakan untuk diolah menjadi tempe dan tahu. Dengan melihat penggunaan utama kedelai dalam sektor pangan tersebut, tidak memungkinkan penggunaan kedelai langsung dalam memproduksi minyak kedelai untuk aplikasi biofuel. Akan tetapi, proses pembuatan biodiesel berbasis minyak kedelai ini dapat disiasati dengan menggunakan produk buangan yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat, karena yang dibutuhkan hanyalah minyaknya. Sehingga, aplikasi ini tidak akan mengganggu sektor pangan di Indonesia.
Sebenarnya, jika ditinjau dari segi penanaman hingga pemanenan, tanaman kedelai ini hanya memerlukan tiga bulan sedangkan kelapa sawit membutuhkan 4 tahun untuk dapat diambil buahnya. Tanaman ini merupakan tanaman tumpangsari sehingga tidak memerlukan lahan khusus untuk penanamannya. Akan tetapi, terdapat kendala yang dihadapi saat ini yaitu minyak kedelai tidak dapat diproduksi secara masal (Topo, 2009).
Kelebihan:
-      Hasil ekstrak minyak tidak mudah menguap dan sangat stabil temperaturnya dalam bentuk cairan;
-        Dapat diproses dengan memisahkan komponen yang tidak dibutuhkan, seperti: fosfat, bahan logam, dan sabun sehingga stabilitasnya meningkat.
Kelemahan:
-     Kandungan phosphatidaes yang sangat tinggi (2%) harus dipisahkan saat proses berlangsung.
-  Kandungan asam linolenik yang tinggi namun bisa dikurangi dengan proses hidrogenasi (Tambun, 2006).

Sifat Fisik Minyak Kedelai
(Barley's Industrial oil and Fat Production, 2005)
c.       Potensi Minyak Mikroalga untuk Oleokimia
Luas lautan indonesia ± 5,6 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, memiliki peluang untuk produksi biodiesel dari mikroalga (Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, 2011).
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas alga dalam menghasilkan biodiesel, di antaranya: intensitas cahaya, temperatur udara, dan nutrisi. Kondisi iklim dan geografis Indonesia yang cukup tinggi membuat bahan bakar alternatif berbasis mikroalga ini dapat dikembangkan di Indonesia.
Kelebihan:
-     Efisiensi fotosintesi yang lebih tinggi, produksi yang lebih tinggi dan laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan tanaman lainnya (Miao & Wu, 2006).
-        Pengambilan minyak tanpa perlu penggilingan. Bisa langsung diekstrak dengan menggunakan bantuan zat pelarut, enzin, pemerasan, ekstraksi CO2, ekstraksi ultrasonik, dan osmotic shock (Nilawati, 2012).
-         Dapat memanfaatkan limbah cair agroindustri, produktivitasnya yang tinggi, yaitu dengan laju pertumbuhan yang hanya dalam hitungan jam atau hari serta tidak memerlukan lahan subur. Hal ini karena makanan utama mikroalga ialah karbondioksida (Suara Merdeka, 2011).
-     Diperkirakan mikroalga mampu menghasilkan minyak 200 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuh-tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar, dll) pada kondisi terbaiknya (Rachmaniah, 2010).
-         Proses pembiakan mikroalga hanya membutuhkan waktu 10 hari (Tresa, 2010).
-     Pemanfaatkan mikroalga sebagai pengendali polusi cair khususnya logam berat dan polusi udara khususnya gas rumah kaca CO2 (Setiarto, 2011).
Kelemahan:
-       Meski demikian, pengembangan mikroalga sebagai sumber biofuel masih belum kompetitif dari segi ekonomi (Suara Merdeka, 2011).
-         Belum ada teknologi yang efisien untuk mengekstrak lipid dari alga.
-       Ketika menggunakan ekstraksi matahari: yieid yang dihasilkan sedikit dan butuh kolam yang cukup
-         Ketika menggunakan listrik: energi yang dibutuhkan sangat besar.

Tabel Perbandingan Biodiesel dari Alga dengan Minyak Tanaman
(Banea, 2013)

Tabel Perbandingan Minyak Kelapa Sawit, Minyak Kedelai, dan Mikroalga

No
Parameter
Kelapa Sawit
Kedelai
Alga/Mikroalga





1
Seed Oil Content
(% oil by wt in biomass)a
36
18
30-70
2
Oil Yield
(L oil/ha year) a
5366
636
58700-136900
3
Land 
(m2 year/kg biodiesel) a
2
18
0,2-0,1
4
Biodiesel productivity
(kg biodiesel/ha year) a
4747
562
51927-121104





5
Kandungan Asam Lemak (% wt)




Palmaic 16:0
44b
11b
8,09c

Stearic 18:0
4 b
4 b
29,5 c

Oleic 18:1
39 b
22 b
2,41 c

Linoleic 18:2
11 b
53 b
45,07 c

Linolenic 18:3
Trace (<1%) b
8 b
11,49 c





6
Harga (USD/Ton)
478d
684d
$2,4/L mikroalga oil e





7
Teknologi e
agriculture farm
agriculture farm
cell bioengineering automatically produced in pilot plant
8
Ketersediaan
Sudah tersedia dan bisa ditumbuhkan di dalam negeri
Bisa dari produk buangan yang tidak dikonsumsi
Bisa dikembangbiakan dalam negeri
9
Mekanisme Proses
Hidrolisis, alkoholisis, dan transesterifikasi
Hidrolisis
Transesterifikasi
10.
Aplikasi
Hampir semua industri oleokimia, baik dasar maupun tingkat pengolahan lanjutan
Biodiesel, biopolimer, dan biolubrikan
Potensial sebagai bahan baku biodiesel
Sumber:
a              Mata dkk., 2009                                                    d              Kamarudin, 2011
b              Barley's Industrial oil and Fat Production   e              Helwani, 2009
c              Nilawati, 2012                                                      

Simpulan:
Meskipun bahan bakar nabati mempunyai keuntungan yang besar dari sisi lingkungan, tapi penggunaan bahan bakar nabati dinilai masih kurang dapat bersaing secara ekonomi dengan bahan bakar fosil. Di samping itu, penggunaan tumbuhan-tumbuhan tersebut untuk menghasilkan bahan bakar dikhawatirkan akan menimbulkan masalah ketahanan pangan.
Berdasarkan Tabel 2.1. diketahui bahwa secara garis besar mikroalga dapat dijadikan pendekatan alternatif sumber bahan bakar nabati yang lebih baik dibandingkan minyak kelapa sawit dan minyak kedelai. Selain itu ditinjau dari kompetisi dengan sektor lainnya, minyak dari mikroalga tidak akan mempengaruhi kestabilan pertanian dunia. Bahkan mikroalga dapat membantu masalah lingkungan dengan memanfaatkan limbah agroindustri.


_____________
Ya ALLAH aku mohonkan kepada-MU, berikanlah aku ilmu yang bermanfaat, kelancaran rezeki & amalan yang diterima (HR. Ahmad) o:) aamiin
**gadis kecil yang kesulitan untuk tidur malam**

0 komentar:

Posting Komentar